Khamis, 13 November 2014

Kebudayaan Batak Toba


Batak Toba merupakan salah satu suku besar di Indonesia. Suku Batak Toba merupakan bagian dari enam sub suku yakni Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Angkola dan Mandailing. Keenam suku ini menempati daerah induk masing-masing di daratan Provinsi Sumatera Utara. Suku Batak Toba berdiam di Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Samosir dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Setiap masyarakat di dunia pasti memiliki kebudayaan yang berbeda dari masyarakat lainnya. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan- kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Demikian halnya suku Batak Toba, meskipun merupakan bagian dari enam sub suku Batak, suku Batak Toba tentunya memiliki kebudayaan sendiri yang membedakannya dari lima sub suku Batak lainnya. Seperti pada gambar di bawah ini
Pada gambar ini terdapat ukiran khas Batak Toba yang menjadi salah satu kebudayaan Batak Toba. Ukiran ini dinamakan ukiran gorga “singa” sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak yang merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi Batak sebagai penjaga rumah dari hal-hal yang tak diinginkan. Biasanya diberikan sebagai ukiran yang penuh pewarnaan khas Batak yaitu kombinasi warna merah, putih dan hitam.
Masyarakat Batak Toba memiliki adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Adat istiadat ialah berbagai aktivitas sosial budaya termasuk upacara-upacara kebudayaan yang disepakati menjadi tradisi dan berlaku secara umum di masyarakat. Tradisi adalah segala sesuatu seperti  upacara adat, pakaian, makanan, rumah adat, tarian dan alat musik yang secara turun temurun diwariskan. 

1.  Marga
Salah satu ciri khas dan kebesaran kebudayaan Batak Toba adalah marga. Marga selalu dilekatkan pada akhir nama setiap orang Batak Toba di manapun mereka berada. Dengan marga orang Batak Toba dianggap memiliki identitas dan penanda sosial seperti pada gambar dibawah ini
Berikut adalah marga yang terdapat di suku Batak Toba :
  • Ambarita-Aritonang-Aruan-Anakampun (Nahampun)
  • Bakkara-Butar
  • Gurning
  • Hutajulu-Hutagalung-Hutagaol-Hutahaean-Hutasoit-Harianja-Hutapea
  • Limbong-Lubis-Lumban Gaol-Lumban Raja-Lumban Toruan
  • Manihuruk-Maharaja-Manullang-Marpaung-Manurung-Manik-Malau-Matondang
  • Panjaitan-Pohan-Pinayungan-Pangaribuan-Pasaribu-Pakpahan-Pardosi-Purba
  • Rajagukguk-Rumahorbo
  • Sagala-Sibarani-Sibuea-Sidabariba-Sihombing-Situmorang-Siahaan-Sitorus-Siagian-Sianipar-Sipangkar-Sipayung-Simanungkalit-Sinaga-Siburian-Simanjuntak-Sinurat-Simbolon-Simarmata-Silaen-Saragi-Simamora-Siregar-Sigalingging-Sianturi-Simatupang-Silaban-Sitindaon-Simaremare-Silitonga-Sitanggang-Sitinjak-Sitio-Siallagan
  • Tambun-Tambunan-Togatorop-Tinambunan-Tobing-Tumanggor.
2.  Rumah Adat
Rumah Adat Batak Toba disebut Rumah Bolon. Rumah ini memiliki bangunan empat persegi panjang yang kadang-kadang ditempati oleh lima sampai enam keluarga. Memasuki Rumah Bolon ini harus menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah rumah, dengan jumlah anak tangga yang ganjil. Bila orang hendak masuk rumah tersebut, harus menundukkan kepala agar tidak terbentur pada balok yang melintang. Hal ini diartikan tamu harus menghormati si pemilik rumah seperti pada gambar dibawah ini
Lantai rumah adat batak ini terkadang sampai 1,75 meter di atas tanah dan bagian bawah dipergunakan untuk memelihara hewan ternak. Pintu masuk rumah adat ini dahulunya memiliki dua macam daun pintu, yaitu daun pintu yang horizontal dan vertikal. Akan tetapi, saat ini daun pintu yang horizontal tidak dipakai lagi. Ruangan dalam rumah adat merupakan ruangan terbuka tanpa kamar-kamar. Walaupun bersamaan lebih dari satu keluarga, tapi bukan berarti tidak ada pembagian ruangan. Dalam rumah adat ini pembagian ruangan dibatasi oleh adat mereka yang kuat.
Ruangan di belakang sudut sebelah kanan dinamakan Jabu Bong, yang ditempati oleh kepala rumah atau Parjabu Bong, dengan isteri dan anak-anak yang masih kecil. Namun di sudut kiri berhadapan dengan Jabu bong dinamakan Jabu Soding, yang dikhususkan untuk anak perempuan yang telah menikah tapi belum mempunyai rumah sendiri. Sedangkan untuk sudut kiri depan dinamakan Jabu Suhat, diperuntukkan bagi anak laki-laki tertua yang sudah nikah dan di seberangnya disebut Tampar Piring diperuntukkan bagi tamu.
Jika keluarga besar maka diadakan tempat di antara dua ruang atau Jabu yang berdempetan, sehingga ruangan bertambah dua lagi dan ruangan ini disebut Jabu Tonga-Ronga Ni Jabu Rona. Walaupun rumah tersebut berdempetan, tiap keluarga mempunyai dapur sendiri berupa bangunan tambahan, yang terletak di belakang rumah. Di antara dua deretan ruangan, yakni di tengah-tengah rumah merupakan daerah netral yang disebut telaga dan berfungsi sebagai tempat bermusyawarah.
Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Rumah dan Sopo. Rumah adalah bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga. Sopo adalah rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung). Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dan lantai terbuat dari papan atau tepas, sedangkan atap terbuat dari ijuk atau daun rumbiah. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan.

3.  Makanan Khas
Arsik adalah jenis masakan yang menjadi ciri khas dan dikenal oleh banyak orang, terbuat dari ikan yang biasanya ikan mas dengan bumbu rempah yang kaya sehingga memiliki warna dan rasa yang berani seperti pada gambar dibawah ini
Tekstur daging ikannya yang lembut karena proses memasak yang lama sehingga seperti ikan presto, namun memiliki rasa yang lebih enak karena paduan bumbu yang berani sehingga rasa rempahnya terasa dilidah. Arsik menjadi masakan penting bagi suku Batak terutama Batak Toba. Ikan mas yang menjadi ikan adat bagi suku Batak karena selalu dipakai di acara adat selalu dimasak arsik dan disusun berjejer cantik.

4.  Pakaian Adat
Baju adat Batak Toba adalah ulos. Ulos dipergunakan di semua acara adat, meskipun untuk pemakaiannya tiap ulos memiliki aturannya sendiri. 
Ulos itu dapat dipadukan dengan pakaian modern, misalnya jas atau dipadukan dengan kebaya. Sebagai baju adat Batak Toba, ulos juga dapat dikombinasikan dengan sortali seperti pada gambar dibawah ini
Sortali itu sendiri adalah ikat kepala yang fungsinya seperti mahkota. Biasanya dibuat dari bahan tembaga yang disepuh dengan emas, lalu dibungkus dengan kani merah. Sortali ini digunakan pada pesta-pesta besar. Sortali digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, sama seperti ulos, penggunaan sortali tidak sembarangan dan memiliki aturan sendiri. Ulos itu sendiri sebenarnya tidak hanya berupa kain tenun, tapi dapat juga berupa tanah (ulos na so ra buruk), uang (ulos tonunan sadari) atau berupa makanan dan doa restu.

5.  Upacara Adat Perkawinan
Perkawinan Adat Batak Toba adalah merupakan salah satu upacara ritual adat Batak Toba. Dalam adat Batak Toba, perkawinan haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat dalihan na tolu, yakni somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru seperti pada gambar dibawah ini
Perkawinan pada masyarakat Batak Toba sangat kuat sehingga tidak mudah untuk bercerai karena dalam perkawinan tersebut banyak orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya.

6.  Tarian Khas
Tortor Batak Toba adalah jenis tarian purba dari Batak Toba yang berasal dari Sumatera Utara yang meliputi daerah Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir seperti pada gambar dibawah ini
Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Secara fisik, tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, di mana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.
Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dimulai terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua Ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari Hasuhutan (yang mempunyai hajat) akan meminta permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut : 
"Amang pardoal pargonci" : "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion."
"Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon."
'"Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo."
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/seruan tersebut dilaksanakan dengan baik, maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.
Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan seperti Permohonan kepada Dewa dan pada roh-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah ruah serta upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga dan para undangan. Setiap penari tortor harus memakai ulos dan mempergunakan alat musik/gondang (Uninguningan). Tari tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

7.  Alat Musik
Taganing adalah salah satu alat musik Batak Toba. Taganing terdiri dari lima buah gendang yang berfungsi sebagai pembawa melodi dan juga sebagai ritem variable dalam beberapa lagu. Klasifikasi instrumen ini termasuk ke dalam kelompok membranophone, yaitu dimainkan dengan cara dipukul membrannya dengan menggunakan palupalu (stik) seperti pada gambar dibawah ini
Taganing adalah drum set melodis (drum-chime), yaitu terdiri dari lima buah gendang yang gantungkan dalam sebuah rak. Bentuknya sama dengan gordang, hanya ukurannya bermacam-macam. Ukuran yang paling besar adalah gendang paling kanan, semakin ke kiri ukurannya semakin kecil. Nadanya juga demikian, semakin ke kiri maka semakin tinggi nadanya. Taganing ini dimainkan oleh satu atau dua orang dengan menggunakan dua buah stik. Dibanding dengan gordang yang relatif konstan, maka taganing adalah melodis.
Taganing, masuk ke dalam jenis alat musik membranphone yang berbentuk tabung, yang merupakan alat pukul atau tabuh. Seperangkat (set) Taganing terdiri lima buah. Di dalam sebuah permainan, posisi Taganing sangat penting. Selain tabuhan taganing yang berpadu dengan melodi Serune, juga berfungsi sebagai dirigen yang memberikan aba-aba dan memberikan pengaruh semangat pada semua musisi yang terlibat.

Daerah Sumatra Utara memiliki kekayaan budaya yang beraneka ragam dalam bentuk adat istiadat, seni tradisional, dan bahasa daerah. Masyarakatnya terdiri atas beberapa suku, seperti Melayu, Nias, Batak Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan (meliputi Sipirok, Angkola, Padang Bolak, dan Mandailing); serta penduduk pendatang seperti Minang, Jawa dan Aceh yang membawa budaya serta adat-istiadatnya sendiri-sendiri. Daerah ini memiliki potensi yang cukup baik dalam sektor pariwisata, baik wisata alam, budaya, maupun sejarah

Semua etnis memiliki nilai budaya masing-masing, mulai dari adat istiadat, tari daerah, jenis makanan, budaya dan pakaian adat juga memiliki bahasa daerah masing-masing. Keragaman budaya ini sangat mendukung dalam pasar pariwisata di Sumater Utara. Walaupun begitu banyak etnis budaya di Sumatera Utara tidak membuat perbedaan antar etnis dalam bermasyarakat karena tiap etnis dapat berbaur satu sama lain dengan memupuk kebersamaan yang baik. kalau di lihat dari berbagai daerah bahwa hanya Sumatera Utara yang memiliki penduduk dengan berbagai etnis yang berbeda dan ini tentunya sangat memiliki nilai positif terhadap daerah sumatera utara.











Tiada ulasan:

Catat Ulasan